Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

Boy Saat ini Pasti Bahagia, dan Aku Ikut Merasa Bahagia

Gambar
"Gitar itu dijual, ya?" ia bertanya sambil menunjuk gitar merah yang berdiri tegak terpajang di sudut dekat lemari. Toko Ayah memang khusus menjual peralatan musik. "Iya. Memang kenapa? Lo bisa mainin gitar? " ucapku dengan antusias. "Bisa sedikit-sedikit. Dulu pernah belajar." "Boleh gue coba gitarnya?" "Boleh. Silakan saja. Asal jangan tergores atau senar putus, ya. Soalnya ini barang jualan," jelasku. "Tenang saja." Lelaki itu meraih gitar merah dari pajangan dan mulai memainkan instrumen tersebut dengan petikan seperti seorang profesional. Setelah puas, dia letakkan lagi di tempat semula. Oh Tuhan, petikan gitarnya membuat bulu kudukku merinding. "Oiya, ada es batu?" "Ada. Buat apa?" jawabku penasaran dengan permintaannya. "Ini buat mengompres luka gue. Lumayan ngilu, nih," ujarnya sambil meringis, memegang sudut bibirnya yang mulai membiru. "Oke. Tunggu sebentar, ya." Ak...

Suatu Pagi Selepas Sholat Subuh

Gambar
Sudah menjadi kebiasaan, usai menjadi Imam Sholat Subuh, Kyai Sepuh tidak akan beranjak dari duduknya sebelum matahari muncul. Jika tidak wiridan, beliau pasti akan melantunkan Sholawat Nariyah dengan suara  rengeng-rengeng menenteramkan hati yang mendengarnya. Beberapa santri kadang ada yang ikut menemani. Tapi lebih seringnya mereka membiarkan Kyai Sepuh sendirian. Seperti pagi itu, Subuh baru beberapa menit berlalu. Kyai Sepuh duduk bersila di samping mimbar menikmati udara dingin yang merasuk melalui jendela Mushola yang sengaja dibiarkan terbuka. Kyai Sepuh tidak melantunkan sholawat seperti biasanya. Beliau membaca surat Al Mulki, surat yang menjelaskan tentang kebesaran kerajaan Allah. Baru juga hendak menyelesaian ayat terakhir, seseorang berpakaian serba hitam masuk ke dalam Mushola dengan gerakan mencurigakan. Orang itu berjalan merunduk-runduk di belakang Kyai Sepuh. Mendadak Kyai Sepuh merasakan sesuatu menempel di lehernya. Benda dingin, tajam dan berk...

Oh ya, Rudy Mau Ngomong Sama Lo Tuh!

Gambar
Bel pulang sekolah sudah berdering sejak 10 menit yang lalu. Namun, Debby masih termenung di bangkunya. "Heh, bengong aja nih anak... yuk, pulang ah," ujar Maria.  "Lo tahu nggak. Mar... minggu depan tanggal berapa? Teror buat para jomblowati, tahu nggak!" tiba-tiba Debby menjerit histeris. "Minggu depan? 14 Februari? Memang kenapa?" Maria bertanya balik. "Ih, Mariaaaa! Sebentar lagi tuh Valentine's Day. Valentine. VAL. EN. TINEEE!!!" Debby makin histeris. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan mengentakkan kaki ke lantai. Maria baru sadar, sejak masuk tahun pertama di SMA, setiap tanggal 14 Februari Debby pasti uring-uringan dan mengutuk hari tersebut - hanya karena satu alasan yang sangat berlebihan, yaitu karena dia tidak pernah mendapat cokelat valentine. Oh, My God! " Well, OK . Nanti gue aja yang beliin lo cokelat deh, hehehe," canda Maria, berusaha menghibur Debby. "Maria, apa-apaan sih lo! Lo menghina gue,...

Ada Pelangi Sehabis Hujan

Gambar
Hujan kembali mengguyur kota Bandung. Pagi itu, Santi memandang ke luar jendela ruang kamarnya sambil melamun. Ia hanya bisa mendengarkan suara rintik hujan menetes dari atap rumahnya. Tiba-tiba, mama mengetuk pintu kamar Santi. "San, ayo siap-siap. Nanti kita terlambat." Terdengar suara Mama mengingatkan dengan lembut. Dengan enggan, Santi berjalan menuju kamar mandi. Suasana hatinya sama sekali sedang tidak bersahabat saat ini. Hari itu Minggu, dan dalam kamus Santi, matahari belum terbit sebelum pukul 11 pada hari Minggu, satu-satunya hari ketika ia bisa menikmati tidur lebih lama dari hari-hari biasanya. Apalagi, sejak ia dipaksa bangun tadi, ia sudah disambut dengan salah satu hal yang paling ia benci di dunia: Hujan. Sesudah mandi, Santi mendengar bunyi hujan deras. Dalam perjalanan kembali ke kamar, ia menghentikan langkahnya untuk bertanya pada Mama yang hendak menuruni tangga. "Ma, kenapa sih harus hujan terus? Memang tidak bisa ya, satu hari saja...